Tradisi Kajian Keilmuan Islam di Surabaya Kurang Semarak

antikaTradisi Kajian Keilmuan Islam di Surabaya Kurang Semarak

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi, M.Phil, rektor Universitas Darussalam, Gontor.  Menurutnya, dibanding Yoyakarta, tradisi keilmuan di Surabaya tertinggal jauh.

Ia memberikan contoh bahwa di Yogyakarta, kajian ilmiah dalam bidang keislaman hidup, baik di masjid-masjid atau kampus.

Pernyataan tersebut dibenarkan oleh Dr. Bahrul Ulum, M.PI, rektor IAI YPBWI Surabaya. Bahrul mengakui bahwa memang kondisinya seperti itu.

Dalam pertemuan tersebut, kedua rektor berharap lembaga pendidikan tinggi di Surabaya menginisiasi tradisi kajian keilmuan, khususnya keilmuan Islam di Surabaya.

Perbincangan tersebut dilakukan secara informal di hadapan para mahasiswa Unair dan ITS, di hotel Santika Surabaya (2/3/2026).

“Surabaya ini memang kota bisnis Prof, sehingga tradisi kajiannya kalah dengan Yogyakarta,”timpal Bahrul Ulum. Namun demikian peluang untuk menghidupkan tradisi keilmuan di Surabaya sangat besar.

Meski Surabaya dikenal sebagai kota dagang, di beberapa masjid atau kelompok pengajian sudah rutin mengadakan kajian keislaman. Hanya saja dibanding Yogyakarta memang masih kurang, terutama kajian ilmiah.  

Hamid Fahmi berharap generasi muda harus bersemangat menghidupkan kajian keilmuan, terutama di kampus-kampus.

Pernyataan tersebut diiyakan oleh para mahasiswa dari Unair dan ITS yang nimbrung perbincangan kedua rektor tersebut. a

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *